Cegah Virus Korona, Lebih Baik Gunakan Masker Bedah atau Kain?

Cegah Virus Korona, Lebih Baik Gunakan Masker Bedah atau Kain?

Potretpublik1 - Melonjaknya angka kasus positif virus korona baru (Covid-19) di Indonesia membuat sebagian besar masyarakat khawatir. Terutama jika Anda masih beraktivitas di luar rumah, seperti harus menggunakan transportasi publik dan bersosialisasi dengan banyak orang.

Masker menjadi barang yang banyak diburu untuk mencegah penyebaran virus korona di ruang-ruang publik. Dalam hal ini, penting untuk mengetahui masker mana yang tepat digunakan di situasi saat ini.

Rata-rata orang menggunakan masker bedah dan masker kain demi mencegah virus korona. Tapi di antara dua itu, mana yang paling efektif?

Dikutip dari acara salah satu stasiun tv
Dokter Siloam Clinic dr Joseph Halim mengatakan, masker kain tidak dianjurkan untuk mencegah virus masuk dalam hidung dan mulut.

"Masker kain tidak dianjurkan karena tidak memiliki filter untuk menyaring patogennya,” kata dr Joseph, dalam acara Health Talk bersama MNC Life, Jumat (20/3/2020).

Oleh sebab itu, dia menyarankan menggunakan masker bedah karena mempunyai lapisan yang mampu menghalau percikan air liur sebagai penularan utama virus korona baru.

Penggunaan masker juga dapat optimal apabila dipakai dengan benar. Misalnya, masker bedah sekali pakai yang tak boleh dipakai lagi jika sudah dilepas.

“Masker kalau sudah dilepas tidak boleh digunakan lagi. Tapi, kalau mau dipakai lagi karena kelangkaan atau susah, lebih baik dilipat, dan lindungi bagian putihnya itu jangan sampai terpapar (oleh tangan atau benda apa pun),” lanjutnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus penyebaran virus korona di Indonesia kembali bertambah. Update data per Jumat (20/3/2020), jumlah pasien positif mencapai 369 orang atau bertambah 60 kasus dari sebelumnya. Total sampai hari ini ada 32 orang yang meninggal dunia atau bertambah 7 kasus kematian.

“Ini perkembangan data terhitung dari pukul 12.00 WIB pada 19 Maret hingga 12.00 WIB 20 Maret 2020,” ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto di Jakarta, Jumat (20/3/2020).

Komentar